Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas bahwa memulai usaha kardus bukan berarti harus membeli mesin terlebih dahulu. Ada tiga tahap sederhana yang menurut saya lebih penting:

- Menentukan model usaha

- Berani memulai

- Bertumbuh

Dua tahap pertama sudah kita bahas. Sekarang kita masuk ke tahap ketiga: bertumbuh. Dan di sinilah sering terjadi kesalahan. Ketika usaha mulai mendapatkan order, pemilik usaha mulai berpikir: "Sudah waktunya beli mesin." Padahal pertanyaan yang lebih tepat bukan: "Mesin apa yang harus saya beli?" Melainkan: "Bagian mana dari proses produksi yang paling menghambat pertumbuhan usaha saya?"

Karena bertumbuh bukan berarti membuat pabrik semakin lengkap. Bertumbuh berarti meningkatkan kemampuan usaha secara bertahap berdasarkan kebutuhan nyata. Tidak Perlu Membeli Semua Mesin. Ketika baru memulai, kita bisa bekerja sama dengan vendor atau pabrik lain untuk mengerjakan proses produksi yang belum kita miliki mesinnya.

Misalnya kita mendapatkan order kardus dengan spesifikasi tertentu. Kita tidak harus memiliki seluruh mesin untuk mengerjakannya. Sebagian proses bisa dikerjakan sendiri, sementara proses lainnya kita serahkan kepada vendor. Dengan cara ini, kita sebenarnya sedang menjalankan sesuatu yang sangat penting:

Manajemen produksi. Kita belajar mengelola: order masuk, spesifikasi produk, kebutuhan bahan, proses produksi, vendor, biaya produksi, waktu pengerjaan, quality control, pengiriman, hingga komplain pelanggan. Menariknya, dari sinilah kita mulai mendapatkan data.

Dan data inilah yang nantinya menjadi dasar ketika kita ingin berinvestasi membeli mesin. Mesin yang Dibeli Seharusnya Mengikuti Data. Saya pernah melihat beberapa teman yang ketika mulai berkembang langsung membeli mesin yang dianggap penting untuk usaha kardus.

Masalahnya, mesin yang dianggap penting belum tentu merupakan mesin yang paling dibutuhkan oleh bisnisnya. Kebutuhan setiap usaha bisa berbeda. Misalnya setelah beberapa bulan menjalankan produksi, ternyata sebagian besar biaya yang kita bayarkan kepada vendor berasal dari proses slitter atau pemotongan.

Maka ada alasan kuat untuk mulai mempertimbangkan investasi pada mesin slitter. Tetapi bisa juga yang terjadi justru sebaliknya. Dari data order yang masuk, ternyata biaya terbesar berasal dari proses pond, misalnya untuk membuat pola atau bentuk tertentu. Maka mesin pond butterfly bisa menjadi investasi yang lebih relevan. Tidak ada jawaban yang bisa dipukul rata. Mesin yang tepat untuk satu usaha belum tentu menjadi mesin yang tepat untuk usaha lainnya. Semuanya tergantung pada: jenis order, volume order, spesifikasi produk, biaya vendor, kapasitas produksi, waktu pengerjaan, dan target pertumbuhan usaha. Jadi jangan membeli mesin hanya karena: "Pabrik sebelah punya mesin ini."

Atau:

"Katanya mesin ini wajib dimiliki kalau mau punya pabrik kardus." Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Dari bisnis saya sendiri, mesin apa yang paling masuk akal untuk dibeli sekarang?" Jawabannya harus datang dari data, bukan asumsi.

Produksi Tanpa Mesin Sendiri Justru Bisa Menjadi Proses Belajar

Ketika seluruh proses produksi belum kita kerjakan sendiri, mungkin rasanya kita sedang memiliki keterbatasan. Tetapi sebenarnya ada keuntungan yang sering tidak kita sadari. Kita dipaksa untuk memahami alur produksi. Kita tahu proses mana yang membutuhkan vendor. Kita tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kita tahu berapa lama prosesnya. Kita tahu vendor mana yang bisa memenuhi kualitas dan deadline. Dan yang paling penting: kita mulai mengetahui bagian mana yang paling banyak menghabiskan biaya.

Bayangkan kita memiliki 100 order. Setelah dicatat dan dianalisis, ternyata: 40% biaya produksi keluar untuk proses A, 25% untuk proses B, 15% untuk proses C, sisanya untuk proses lainnya.

Maka ketika kita ingin melakukan investasi, kita memiliki dasar untuk menentukan prioritas. Bukan lagi: "Saya ingin punya mesin." Tetapi: "Saya ingin mengurangi biaya dan meningkatkan kapasitas pada proses yang paling banyak membebani produksi." Itu dua cara berpikir yang berbeda. Pertumbuhan Dimulai Ketika Kita Menemukan Bottleneck

Setelah akhirnya kita membeli mesin pertama, perjalanan belum selesai. Justru di sinilah fase pertumbuhan berikutnya dimulai. Karena setelah satu bottleneck diselesaikan, biasanya akan muncul bottleneck yang lain. Misalnya sebelumnya proses slitter selalu menjadi hambatan. Kemudian kita membeli mesin slitter. Proses slitter menjadi lebih cepat. Tetapi ternyata setelah itu muncul masalah baru. Mesin slitter sudah mampu menghasilkan banyak lembaran, tetapi proses selanjutnya tidak mampu mengejar kapasitas tersebut. Akhirnya bottleneck berpindah.

Inilah yang menarik dalam pertumbuhan sebuah usaha. Kita tidak selalu tahu sejak awal mesin apa yang akan menjadi kebutuhan berikutnya. Kita mengetahuinya setelah menjalankan bisnis. Bottleneck Adalah Petunjuk untuk Bertumbuh. Bottleneck bukan selalu sesuatu yang harus ditakuti. Dalam konteks produksi, bottleneck justru bisa menjadi petunjuk investasi berikutnya.

Misalnya:

Order meningkat โ†’ kapasitas proses A tidak cukup โ†’ terjadi antrean โ†’ deadline mulai terganggu โ†’ kita mencari solusi.

Solusinya bisa berupa: menambah shift, menambah tenaga kerja, memperbaiki SOP, mencari vendor alternatif, melakukan maintenance, memperbaiki layout, atau membeli mesin. Artinya, membeli mesin hanyalah salah satu solusi.

Jangan sampai setiap masalah produksi langsung diterjemahkan menjadi: "Berarti harus beli mesin." Belum tentu. Bisa jadi masalahnya ada pada manajemen produksi. Bisa jadi kapasitas tenaga kerja yang kurang. Bisa jadi layout produksi tidak efisien. Bisa jadi penjadwalan order yang buruk. Bisa jadi vendor yang dipilih tidak sesuai. Atau memang sudah waktunya investasi mesin. Kita baru bisa mengetahuinya ketika proses produksi kita dikelola dan dicatat dengan baik. Bertumbuh Secara Bertahap. Saya melihat pertumbuhan usaha kardus lebih masuk akal jika dilakukan seperti ini:

Mulai โ†’ Dapatkan Order โ†’ Kelola Produksi โ†’ Catat Data โ†’ Temukan Bottleneck โ†’ Cari Solusi โ†’ Investasi โ†’ Tingkatkan Kapasitas โ†’ Temukan Bottleneck Berikutnya.

Bukan: Beli Mesin โ†’ Baru Mencari Order.

Perbedaannya sangat besar. Pada pola pertama, bisnis yang menentukan mesin. Pada pola kedua, mesin yang menentukan bisnis. Padahal mesin seharusnya menjadi alat untuk membantu bisnis berkembang, bukan menjadi tujuan dari bisnis itu sendiri. Jangan Mengejar Pabrik yang Lengkap

Mungkin suatu saat kita memang akan memiliki mesin yang lengkap. Tetapi menurut saya, itu adalah hasil dari perjalanan, bukan syarat untuk memulai. Kita bisa memulai dari model usaha yang sederhana. Kita bisa menggunakan vendor. Kita bisa belajar mengelola produksi. Kita bisa mengumpulkan data.

Kita bisa mengetahui proses mana yang paling banyak menghabiskan biaya. Kemudian kita mulai membeli mesin pertama. Setelah itu, kita menemukan bottleneck berikutnya. Lalu kita memperbaikinya. Kemudian usaha kembali tumbuh. Dan proses itu terus berulang. Itulah pertumbuhan. Bukan membeli semua mesin di awal. Tetapi membeli mesin yang memang dibutuhkan oleh bisnis pada saat yang tepat.

Kesimpulan

Jika kita ingin memulai usaha kardus, jangan menjadikan kelengkapan mesin sebagai ukuran kesiapan usaha. Yang lebih penting adalah kemampuan kita untuk mendapatkan order, mengelola produksi, menjaga kualitas, memenuhi deadline, dan memahami angka-angka di dalam bisnis. Karena ketika bisnis sudah berjalan, data akan mulai berbicara. Dari data tersebut kita bisa mengetahui:

- Apa yang paling mahal?
- Apa yang paling lambat?
- Apa yang paling sering menjadi hambatan?
- Apa yang paling sering dikerjakan?
- Dan apa yang paling layak untuk kita investasikan?

Dari situlah keputusan membeli mesin menjadi lebih rasional. Jadi, bertumbuh bukan berarti membeli mesin sebanyak-banyaknya. Bertumbuh adalah kemampuan meningkatkan kapasitas usaha berdasarkan masalah nyata yang kita temukan di lapangan. Dan mungkin, justru dari bottleneck itulah kita mengetahui apa yang harus dibangun berikutnya.