Di artikel sebelumnya, saya membahas tentang empat founder yang memulai usaha kardus tanpa langsung memiliki mesin sendiri: Bumi Kardus, Kraftstudio, Uci Widya, dan Dusdukduk.
Dari cerita mereka, ada satu hal yang menarik. Memulai usaha kardus ternyata tidak harus dimulai dari membeli mesin. Justru sebelum sampai ke tahap memiliki mesin dan membangun pabrik sendiri, ada beberapa hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu.
Lalu pertanyaannya:
Kalau bukan membeli mesin, lalu harus mulai dari mana?
Menurut saya, ada beberapa tahapan yang perlu dilewati.
1. Tentukan Model Usahanya
Sebelum bicara mesin, kita perlu memahami terlebih dahulu model bisnis kardus seperti apa yang ingin dijalankan. Bisnis kardus tidak hanya berarti memiliki pabrik dan memproduksi kardus sendiri. Ada banyak kemungkinan model usaha.
Bisa menjadi penjual atau distributor, bisa fokus mencari customer kemudian produksinya dikerjakan oleh vendor, bisa menjadi penghubung antara customer dengan pabrik, atau nantinya berkembang menjadi produsen dengan mesin sendiri. Di tahap awal, yang paling penting bukan seberapa banyak aset yang kita punya.
Tetapi:
“Saya sebenarnya ingin bermain di bagian mana dalam bisnis kardus ini?”
Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah berikutnya.
2. Berani Memulai
Setelah tahu model usaha yang ingin dijalankan, tahap berikutnya adalah yang paling sederhana sekaligus paling sulit:
mulai.
Banyak orang ingin memulai usaha kardus dengan berpikir:
“Kalau saya sudah punya mesin, saya baru bisa mulai.”
Padahal justru bisa sebaliknya. Kita bisa memulai dengan belajar mendapatkan order terlebih dahulu, kemudian mencari vendor yang mampu mengerjakan produksi tersebut. Di sinilah kita mulai belajar bahwa menjalankan bisnis kardus bukan hanya tentang bagaimana membuat kardus.
Ada banyak ilmu lain yang harus dikuasai. Belajar Mendapatkan Order
Sebelum memiliki mesin, kita bisa belajar satu hal yang sangat penting:
bagaimana mendapatkan customer.
Karena pada akhirnya mesin hanya akan menjadi aset yang menghasilkan uang ketika ada order yang masuk. Belajar mencari customer, memahami kebutuhan mereka, membuat penawaran, menghitung harga, melakukan follow-up, sampai mendapatkan repeat order adalah kemampuan yang sangat penting.
Bahkan ketika nantinya sudah memiliki pabrik sendiri, kemampuan mendapatkan order tetap menjadi salah satu bagian terpenting dalam bisnis. Belajar Manajemen Produksi Tanpa Mesin Sendiri. Ini bagian yang menurut saya menarik. Walaupun belum mempunyai mesin, bukan berarti kita tidak bisa belajar tentang produksi.
Kita bisa bekerja sama dengan beberapa vendor atau pabrik untuk mengerjakan order yang masuk.
Dari sini kita mulai belajar: bagaimana memilih vendor, bagaimana menentukan harga produksi, bagaimana mengatur deadline, bagaimana membagi pekerjaan, bagaimana melakukan QC, bagaimana memastikan spesifikasi sesuai pesanan, bagaimana menangani revisi atau kesalahan produksi, dan bagaimana memastikan barang sampai ke customer tepat waktu.
Dengan kata lain, kita belajar mengelola produksi sebelum memiliki produksi sendiri. Ini penting. Karena ketika suatu hari nanti kita memiliki mesin sendiri, setidaknya kita sudah memahami bagaimana sebuah order harus berjalan dari awal sampai selesai. Belajar Memahami Armada. Ada satu hal yang sering luput ketika membicarakan bisnis kardus:
distribusi.
Kardus itu relatif besar dan memakan tempat. Artinya, biaya pengiriman bisa menjadi komponen yang cukup signifikan dalam sebuah order.
Saya punya cerita dari seorang teman yang sekarang sudah memiliki pabrik cukup besar dengan jumlah karyawan lebih dari 40 orang. Menariknya, ketika beliau masih merintis, beliau tidak langsung membeli semua mesin. Salah satu keputusan yang justru lebih dulu diambil adalah membeli armada.
Kenapa?
Karena beliau melihat bahwa biaya distribusi kardus cukup besar. Dengan memiliki armada sendiri, biaya dan kontrol distribusi bisa lebih mudah dikelola. Ini menjadi salah satu contoh bahwa dalam bisnis, aset yang dibeli pertama kali tidak selalu harus berupa mesin produksi. Kadang justru ada aset lain yang memberikan dampak lebih besar terhadap efisiensi bisnis pada tahap tertentu.
Belajar Tentang Gudang
Selain produksi dan distribusi, ada satu hal lain yang perlu dipahami:
penyimpanan. Kardus membutuhkan tempat.
Dan semakin banyak order yang masuk, semakin besar pula kebutuhan ruang untuk menyimpan bahan maupun barang jadi.
Di sinilah kita mulai belajar tentang:
kapasitas gudang, penempatan barang, alur keluar-masuk barang, stok bahan, waktu penyimpanan, sampai bagaimana menghindari gudang menjadi terlalu penuh. Kelihatannya sederhana. Tetapi ketika volume bisnis mulai meningkat, persoalan gudang bisa menjadi persoalan besar. Karena itu, memahami manajemen penyimpanan sejak awal akan sangat membantu ketika bisnis mulai berkembang.
Memaksimalkan Jaringan
Hal lain yang tidak kalah penting adalah jaringan. Ketika belum memiliki mesin sendiri, jaringan vendor menjadi sangat penting. Kita tidak harus menguasai semuanya sendiri. Justru di awal, kita bisa membangun hubungan dengan beberapa vendor yang memiliki kemampuan produksi berbeda.
Misalnya, vendor A memiliki keunggulan di satu jenis produksi, vendor B memiliki kemampuan di jenis lainnya, dan vendor C mungkin memiliki kapasitas yang lebih besar. Dari sana kita belajar bagaimana membagi pekerjaan dengan tepat.
Teman saya yang saya ceritakan tadi juga menjalankan pola seperti ini ketika masih merintis. Beliau tidak langsung mengerjakan semuanya sendiri. Order yang masuk dikelola, kemudian pekerjaan dibagi ke beberapa vendor yang berbeda. Yang dipelajari bukan hanya bagaimana membuat produknya, tetapi bagaimana mengatur seluruh prosesnya agar tetap efisien dan sesuai deadline. Dan dari proses itulah kemampuan bisnisnya terbentuk.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Dibangun di Awal?
Kalau diperhatikan, di tahap awal kita mungkin belum memiliki banyak mesin. Tetapi sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting:
kemampuan mengelola bisnis.
Kita belajar:
mendapatkan order → menghitung → mencari vendor → mengatur produksi → melakukan QC → mengatur gudang → mengatur armada → mengirim barang → menjaga customer → mendapatkan repeat order.
Semua proses tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Karena ketika nanti bisnis semakin besar, persoalannya bukan lagi sekadar:
“Bagaimana cara membuat kardus?”
Tetapi:
“Bagaimana cara mengelola sistem yang mampu menghasilkan dan mengirim ribuan bahkan puluhan ribu kardus dengan konsisten?”
Dan kemampuan itu tidak bisa dibeli bersamaan dengan mesin. Kemampuan itu harus dibangun dari pengalaman. Mesin Akan Datang di Waktu yang Tepat. Mungkin pada akhirnya kita memang akan membutuhkan mesin sendiri.
Bahkan mungkin suatu saat kita membutuhkan banyak mesin, gudang yang lebih besar, armada yang lebih banyak, dan karyawan yang semakin banyak. Tetapi semuanya punya waktunya masing-masing. Jangan sampai kita membeli mesin terlalu cepat, sementara order belum ada, sistem produksi belum dipahami, dan kemampuan mengelola bisnis belum terbentuk. Karena mesin bukanlah bisnis. Mesin hanyalah salah satu bagian dari bisnis.
Yang membuat bisnis berjalan adalah bagaimana kita mendapatkan order, mengelola produksi, mengatur distribusi, menjaga kualitas, dan membangun hubungan dengan customer.
Dari Berani Memulai, Kemudian Bertumbuh
Kalau saya sederhanakan, perjalanan memulai usaha kardus kurang lebih seperti ini:
Tentukan model usaha → Berani memulai → Belajar mendapatkan order → Belajar mengelola produksi → Memahami distribusi → Memahami gudang → Memaksimalkan jaringan → Kemudian bertumbuh.
Dan setelah tahap “berani memulai” ini berhasil dilewati, perjalanan belum selesai.
Justru di sinilah tahap berikutnya dimulai:
bertumbuh.
Bagaimana dari bisnis yang awalnya mengandalkan vendor, kemudian memiliki sistem yang lebih kuat, memiliki aset sendiri, menambah kapasitas produksi, merekrut karyawan, sampai akhirnya benar-benar menjadi sebuah pabrik.
Itulah tahap berikutnya yang akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Karena membeli mesin bukan akhir dari perjalanan. Dan ternyata, membeli mesin juga bukan awalnya.
