Tentu. Karena tema besarnya adalah dashboard pabrik kardus, artikel OEE sebaiknya tidak terlalu teoritis. Pembaca perlu langsung memahami: β€œAngka OEE ini sebenarnya memberi tahu apa tentang kondisi mesin saya?”

Berikut draft artikel yang bisa langsung Anda gunakan di blog.

Overall Equipment Effectiveness (OEE): Cara Mengukur Efisiensi Mesin di Pabrik Kardus

Dalam sebuah pabrik kardus, mesin bisa saja terlihat terus berjalan sepanjang hari. Namun, mesin yang terus berjalan belum tentu bekerja secara efektif.

Bayangkan sebuah mesin corrugator memiliki waktu produksi 8 jam. Secara teori, mesin tersebut seharusnya mampu menghasilkan sejumlah tertentu lembaran corrugated board. Tetapi dalam kenyataannya, ada waktu mesin berhenti, kecepatan produksi tidak mencapai target, dan sebagian hasil produksi harus dibuang karena cacat.

Lalu, bagaimana kita mengetahui seberapa efektif mesin tersebut sebenarnya bekerja?

Salah satu metrik yang banyak digunakan dalam dunia manufaktur adalah Overall Equipment Effectiveness (OEE).

OEE membantu perusahaan melihat efektivitas mesin dari tiga sisi utama:

Availability – seberapa sering mesin tersedia untuk berproduksi

Performance – seberapa cepat mesin berproduksi dibandingkan kemampuan idealnya

Quality – seberapa banyak produk yang dihasilkan dengan kualitas baik

Ketiga faktor tersebut kemudian digabungkan menjadi satu angka OEE.

Apa Itu OEE?

Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur seberapa efektif sebuah mesin atau peralatan produksi digunakan dibandingkan dengan kondisi idealnya.

Sederhananya:

OEE menunjukkan seberapa dekat performa aktual mesin dengan kondisi produksi ideal.

Misalnya sebuah mesin secara teori bisa digunakan selama 8 jam dan menghasilkan 8.000 lembar produk berkualitas baik.

Namun dalam kondisi nyata:

mesin berhenti 1 jam karena breakdown,

kecepatan mesin lebih rendah dari target,

dan sebagian produk mengalami defect.

OEE menggabungkan seluruh kehilangan tersebut menjadi satu indikator.

Jadi, daripada hanya melihat:

"Mesin bekerja 7 jam."

kita bisa melihat pertanyaan yang lebih penting:

"Dari waktu produksi yang tersedia, seberapa efektif mesin menghasilkan produk yang bagus dengan kecepatan yang seharusnya?"

3 Komponen Utama OEE

OEE terdiri dari tiga komponen:

OEE = Availability Γ— Performance Γ— Quality

Ketiganya dinyatakan dalam persentase.

Mari kita lihat satu per satu menggunakan contoh yang dekat dengan aktivitas pabrik kardus.

1. Availability – Seberapa Lama Mesin Benar-Benar Tersedia?

Availability mengukur seberapa banyak waktu produksi yang benar-benar tersedia setelah dikurangi waktu berhenti mesin.

Misalnya sebuah mesin Flexo Printer dijadwalkan berproduksi selama:

8 jam = 480 menit

Tetapi selama produksi terjadi:

breakdown: 30 menit

setup/changeover: 30 menit

Total waktu berhenti:

60 menit

Maka waktu aktual mesin berproduksi:

480 - 60 = 420 menit

Availability:

420 Γ· 480 Γ— 100% = 87,5%

Artinya, mesin memiliki Availability sebesar 87,5%.

Apa saja yang bisa menurunkan Availability?

Di pabrik kardus, beberapa penyebabnya antara lain:

mesin breakdown

pergantian order

setup mesin

cleaning

menunggu material

menunggu tinta

menunggu pisau/die

menunggu operator

masalah listrik

masalah pneumatic

material belum tersedia

mesin berhenti karena masalah proses sebelumnya

Hal yang menarik adalah tidak semua downtime disebabkan oleh kerusakan mesin.

Mesin bisa saja dalam kondisi sehat, tetapi tetap tidak menghasilkan karena harus menunggu material atau proses sebelumnya belum selesai.

Inilah salah satu alasan mengapa OEE berguna dalam dashboard pabrik.

2. Performance – Apakah Mesin Berjalan Secepat Seharusnya?

Mesin yang sedang berjalan belum tentu bekerja pada kecepatan ideal.

Misalnya sebuah mesin produksi kardus memiliki kemampuan ideal:

100 lembar/menit

Dalam kondisi nyata, mesin hanya berjalan pada rata-rata:

80 lembar/menit

Maka Performance mesin menjadi lebih rendah.

Ada banyak alasan mengapa kecepatan produksi bisa turun, misalnya:

operator menurunkan speed karena kualitas mulai tidak stabil

material tidak konsisten

mesin mengalami getaran

tekanan atau setting mesin tidak optimal

proses downstream tidak mampu mengikuti

sering terjadi minor stoppage

operator harus melakukan adjustment

kualitas produk mulai bermasalah jika mesin dijalankan terlalu cepat

Contoh sederhana

Misalnya mesin Flexo secara ideal mampu menghasilkan:

100 box/menit

Tetapi selama mesin berjalan, rata-rata hanya menghasilkan:

80 box/menit

Maka:

Performance = 80 Γ· 100 Γ— 100% = 80%

Artinya, mesin hanya memanfaatkan sekitar 80% dari kemampuan kecepatan idealnya.

3. Quality – Berapa Banyak Produk yang Benar-Benar Bagus?

Komponen ketiga adalah Quality.

Tidak semua produk yang keluar dari mesin otomatis menjadi produk yang bisa dikirim kepada pelanggan.

Dalam produksi kardus, bisa saja terjadi:

cetakan tidak sesuai

warna tidak sesuai

posisi printing bergeser

ukuran salah

cutting tidak sempurna

creasing bermasalah

lem tidak sempurna

kardus rusak

flute bermasalah

material reject

produk harus dirework

Karena itu, OEE tidak hanya menghitung berapa banyak produk yang dibuat, tetapi juga berapa banyak produk yang memenuhi standar kualitas.

Misalnya sebuah mesin menghasilkan:

10.000 box

Tetapi:

300 box reject

Maka produk good:

10.000 - 300 = 9.700 box

Quality:

9.700 Γ· 10.000 Γ— 100% = 97%

Artinya, Quality mesin tersebut adalah 97%.

Bagaimana Cara Menghitung OEE?

Setelah mendapatkan tiga angka tadi, kita tinggal mengalikannya.

Misalnya:

Availability = 87,5%

Performance = 80%

Quality = 97%

Maka:

OEE = 87,5% Γ— 80% Γ— 97%

Hasilnya sekitar:

67,9%

Jadi OEE mesin tersebut adalah sekitar 67,9%.

Kenapa OEE Bisa Jauh Lebih Rendah dari yang Kita Bayangkan?

Ini salah satu hal penting yang perlu dipahami.

Misalnya sebuah mesin mempunyai:

Availability = 90%

Performance = 90%

Quality = 98%

Jika hanya melihat angka tersebut, semuanya terlihat cukup baik.

Tetapi ketika dikalikan:

90% Γ— 90% Γ— 98% = 79,4%

OEE akhirnya hanya sekitar 79,4%.

Ini menunjukkan bahwa masalah kecil pada beberapa area dapat terakumulasi menjadi kehilangan efektivitas yang cukup besar.

Itulah kekuatan OEE.

Contoh OEE pada Pabrik Kardus

Sekarang kita gunakan contoh yang lebih dekat dengan alur produksi kardus.

Misalnya sebuah pabrik mempunyai mesin Corrugator.

Mesin dijadwalkan berproduksi selama:

8 jam

atau:

480 menit

Selama shift terjadi:

ParameterData
Planned Production Time480 menit
Downtime60 menit
Actual Running Time420 menit
Ideal Speed100 meter/menit
Actual Production38.000 meter
Ideal Production42.000 meter
Total Output38.000 meter
Reject1.000 meter
Good Output37.000 meter

Kemudian kita hitung.

Availability

420 Γ· 480 Γ— 100%

= 87,5%

Performance

38.000 Γ· 42.000 Γ— 100%

= 90,5%

Quality

37.000 Γ· 38.000 Γ— 100%

= 97,4%

Maka:

OEE = 87,5% Γ— 90,5% Γ— 97,4%

β‰ˆ 77,2%

Jadi, berdasarkan data tersebut, efektivitas mesin selama periode tersebut sekitar 77,2%.

OEE Bukan Sekadar Angka Persentase

Kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan OEE hanya sebagai angka untuk laporan.

Misalnya dashboard menunjukkan:

OEE = 72%

Lalu laporan selesai.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Mengapa OEE hanya 72%?"

Di sinilah dashboard produksi menjadi sangat penting.

Dashboard seharusnya tidak hanya menampilkan angka OEE, tetapi juga membantu kita melihat penyebab kehilangan efektivitasnya.

Contohnya:

OEE 72%

↓

Availability 80%

↓

Downtime 20%

↓

Penyebab downtime:

Breakdown: 8%

Changeover: 6%

Material waiting: 3%

Minor stoppage: 3%

Dengan tampilan seperti ini, manajemen tidak hanya mengetahui bahwa OEE rendah.

Mereka juga bisa melihat di mana masalah terbesar terjadi.

OEE dalam Dashboard Pabrik Kardus

Jika OEE akan dimasukkan ke dalam dashboard pabrik kardus, saya menyarankan agar angka OEE menjadi salah satu KPI utama.

Contoh tampilan sederhana:

PRODUCTION DASHBOARD

OEE

77,2%

Availability

87,5%

Performance

90,5%

Quality

97,4%

Production

Actual: 38.000 m

Target: 42.000 m

Downtime

60 menit

Breakdown
30 menit

Changeover
20 menit

Material Waiting
10 menit

Dengan dashboard seperti ini, orang yang melihat dashboard tidak perlu membuka banyak laporan untuk memahami kondisi mesin.

Satu layar dapat memberikan gambaran kondisi produksi.

OEE Membantu Menemukan "Hidden Loss"

Salah satu manfaat OEE yang menarik adalah kemampuannya membantu menemukan hidden loss atau kehilangan produksi yang sering tidak terlihat.

Misalnya operator mengatakan:

"Mesinnya tidak pernah berhenti lama."

Secara kasat mata memang terlihat demikian.

Tetapi ternyata dalam satu shift:

mesin berhenti 2 menit

kemudian jalan

berhenti lagi 1 menit

adjustment 3 menit

cleaning 2 menit

menunggu material 2 menit

Masing-masing terlihat kecil.

Namun jika terjadi berulang kali sepanjang shift, total waktunya bisa menjadi signifikan.

Begitu juga dengan speed loss.

Mesin mungkin berjalan selama berjam-jam, tetapi tidak pernah mencapai kecepatan ideal.

Jika targetnya 100 unit/menit tetapi mesin rata-rata hanya berjalan pada 85 unit/menit, maka ada kehilangan performance yang sebenarnya cukup besar.

OEE membantu membuat kehilangan seperti ini menjadi lebih terlihat.

OEE dan 6 Big Losses

Dalam konsep OEE, kehilangan efektivitas mesin sering dikelompokkan menjadi Six Big Losses atau enam jenis kehilangan utama.

Secara sederhana:

1. Equipment Failure

Mesin mengalami kerusakan sehingga harus berhenti.

Contoh:

motor bermasalah

bearing rusak

sensor bermasalah

sistem pneumatic bermasalah

2. Setup & Adjustment

Mesin berhenti untuk setup atau penyesuaian.

Contoh:

ganti order

ganti ukuran

ganti printing plate

setting pisau

adjustment warna

3. Idling & Minor Stops

Mesin mengalami berhenti singkat atau gangguan kecil.

Contoh:

material tersangkut

sensor membaca error

operator melakukan adjustment kecil

4. Reduced Speed

Mesin berjalan tetapi kecepatannya lebih rendah daripada kondisi ideal.

Contoh:

Target:

100 unit/menit

Aktual:

80 unit/menit

Ada kehilangan performance sebesar 20% terhadap kecepatan ideal tersebut.

5. Process Defects

Produk yang dihasilkan mengalami defect.

Contoh:

printing defect

ukuran tidak sesuai

cutting error

glue problem

6. Reduced Yield

Material atau produk yang hilang pada awal proses produksi, misalnya saat startup atau setting mesin.

Contohnya:

Saat melakukan setup, mesin menghasilkan beberapa lembar kardus yang belum memenuhi standar dan harus dibuang.

Apa Hubungan OEE dengan Dashboard Pabrik?

OEE sebenarnya sangat cocok dijadikan bagian dari production dashboard karena OEE bisa menjadi indikator ringkas kondisi mesin.

Bayangkan sebuah dashboard dengan beberapa mesin:

MesinAvailabilityPerformanceQualityOEE
Corrugator88%92%98%79%
Flexo 0191%86%97%76%
Flexo 0285%94%96%77%
Gluing93%90%99%83%

Dari dashboard tersebut, kita bisa melihat kondisi masing-masing mesin dengan cepat.

Namun sekali lagi, OEE yang lebih rendah tidak otomatis berarti mesinnya lebih buruk. Kita perlu melihat periode pengukuran, jenis produk, target speed, changeover, karakteristik order, dan penyebab downtime.

Karena itu, OEE sebaiknya digunakan sebagai alat untuk menemukan masalah, bukan sekadar alat untuk membandingkan mesin.

OEE untuk Corrugator, Flexo, dan Gluing

Konsep OEE dapat diterapkan pada berbagai mesin dalam pabrik kardus.

Corrugator

Beberapa data yang dapat dipantau:

running time

downtime

speed

output meter

waste

reject

changeover

paper/material waiting

Flexo Printer

Data yang dapat dipantau misalnya:

running time

speed

output

setup time

tinta/changeover

printing defect

reject

minor stoppage

Die Cutting

Data yang dapat dipantau:

production time

machine speed

setup

die change

reject

cutting defect

output

Gluing

Data yang dapat dipantau:

running time

speed

output

glue problem

machine stoppage

reject

setup/changeover

Dengan demikian, dashboard dapat memberikan gambaran efektivitas setiap proses produksi.

Data Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Menghitung OEE?

Untuk membuat OEE, pabrik tidak harus langsung menggunakan sistem yang sangat kompleks.

Beberapa data dasar yang diperlukan antara lain:

1. Planned Production Time

Berapa lama mesin memang direncanakan untuk berproduksi.

2. Downtime

Berapa lama mesin berhenti.

3. Total Production

Berapa banyak produk yang dihasilkan.

4. Ideal Cycle Time / Ideal Speed

Berapa kemampuan produksi ideal mesin.

5. Good Production

Berapa produk yang memenuhi standar kualitas.

Dari data tersebut, sistem dapat menghitung:

Availability β†’ Performance β†’ Quality β†’ OEE

OEE Sebagai "Health Indicator" Mesin

Cara sederhana memahami OEE adalah menganggapnya seperti indikator kesehatan proses produksi.

Misalnya dashboard menunjukkan:

OEE 85%

Kita tidak cukup hanya mengatakan "85%".

Kita perlu bertanya:

Apakah Availability rendah?

Apakah Performance rendah?

Apakah Quality rendah?

Apa penyebab downtime?

Mesin mana yang paling banyak kehilangan waktu?

Produk atau order apa yang menyebabkan speed turun?

Kapan downtime paling sering terjadi?

Dengan pertanyaan tersebut, OEE berubah dari sekadar angka KPI menjadi alat untuk melakukan improvement.

Jangan Hanya Mengejar Angka OEE

Ini juga penting.

OEE sebaiknya tidak diperlakukan sebagai angka yang harus selalu dibuat tinggi dengan cara apa pun.

Misalnya operator menjalankan mesin lebih cepat untuk meningkatkan Performance, tetapi akibatnya defect meningkat.

Performance mungkin naik, tetapi Quality turun.

Atau perusahaan mengurangi waktu setup secara agresif, tetapi proses setup menjadi kurang stabil dan menghasilkan lebih banyak reject.

Karena itu, OEE perlu dilihat sebagai gabungan Availability, Performance, dan Quality.

Tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan angka OEE yang tinggi.

Tujuannya adalah:

mengurangi kehilangan produksi dan membuat proses produksi lebih stabil, efisien, dan konsisten.

Kesimpulan

Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah salah satu metrik penting untuk memahami efektivitas mesin di pabrik.

OEE melihat tiga hal utama:

Availability
Apakah mesin tersedia dan tidak banyak mengalami downtime?

Performance
Apakah mesin berjalan dengan kecepatan yang seharusnya?

Quality
Apakah produk yang dihasilkan memenuhi standar?

Ketiganya kemudian dihitung menjadi:

OEE = Availability Γ— Performance Γ— Quality

Bagi pabrik kardus, OEE dapat digunakan pada berbagai proses seperti corrugator, flexo printing, die cutting, gluing, dan proses produksi lainnya.

Ketika OEE ditampilkan dalam dashboard pabrik, manfaatnya menjadi semakin besar. Manajemen dan tim produksi dapat melihat kondisi mesin dengan cepat sekaligus menelusuri penyebab kehilangan produksi.

Jadi, OEE bukan hanya tentang mengetahui berapa persen mesin bekerja.

Yang lebih penting adalah mengetahui:

"Ke mana waktu dan kapasitas produksi kita hilang?"

Dan dari situlah proses improvement bisa dimulai.