Dalam industri kardus, bahan baku merupakan salah satu komponen biaya produksi yang sangat penting. Untuk membuat kardus, pabrik menggunakan berbagai material seperti kertas kraft, liner, medium, tinta, lem, dan bahan pendukung lainnya. Sebagian besar material tersebut akhirnya menjadi produk yang dijual kepada pelanggan.
Namun, dalam proses produksi, tidak semua bahan baku dapat berubah menjadi produk jadi. Ada material yang terbuang karena:
Potongan kertas
Trimming
Setting mesin
Salah ukuran
Produk reject
Kerusakan material
Kesalahan produksi
Proses changeover, dan berbagai penyebab lainnya
Karena itu, pabrik perlu mengetahui berapa persen bahan baku yang akhirnya menjadi waste. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Waste Percentage atau Persentase Sisa Bahan.
Apa Itu Waste Percentage?
Waste Percentage adalah persentase material yang tidak menjadi produk jadi atau tidak dapat dimanfaatkan sebagai produk yang memenuhi standar dibandingkan dengan total material yang digunakan.
Sederhananya, Waste Percentage menunjukkan seberapa banyak bahan yang masuk ke proses produksi tetapi tidak menjadi produk yang dapat dijual atau digunakan.
Contoh Kasus: Sebuah pabrik menggunakan 10.000 kg kertas untuk menghasilkan produk. Setelah proses produksi selesai, terdapat 500 kg waste.
Perhitungan: 500 ÷ 10.000 × 100% = 5%
Artinya: Sekitar 5% material yang digunakan berubah menjadi waste.
Kenapa Waste Penting untuk Pabrik Kardus?
Waste bukan hanya masalah lingkungan. Dalam sudut pandang bisnis, waste berarti material yang sudah dibeli tetapi tidak menghasilkan produk yang bisa dijual.
Bayangkan sebuah pabrik menggunakan 100 ton kertas per hari. Jika Waste Percentage mencapai 5%, maka terdapat sekitar 5 ton material yang tidak menjadi produk akhir.
Jika harga rata-rata material adalah Rp10.000/kg, maka nilai material tersebut mencapai:
5.000 kg × Rp10.000 = Rp50.000.000
Artinya, secara ilustrasi, waste material dalam satu hari dapat memiliki nilai sekitar Rp50 juta. Angka sebenarnya tentu bergantung pada jenis material, harga pembelian, proses produksi, dan bagaimana waste tersebut dikategorikan atau dimanfaatkan kembali. Inilah mengapa Waste Percentage layak menjadi salah satu KPI dalam dashboard pabrik.
Rumus Waste Percentage
Rumus dasarnya cukup sederhana:
Waste Percentage = (Waste Material ÷ Total Material Input) × 100%
Contoh:
Total material masuk: 20.000 kg
Waste: 800 kg
Hasil: 800 ÷ 20.000 × 100% = 4%
Contoh Waste pada Produksi Kardus
Untuk memahami Waste Percentage, kita bisa melihat proses produksi kardus dari awal. Misalnya sebuah pabrik mendapatkan order 10.000 pcs box dan menyiapkan material berupa lembaran corrugated board. Dalam proses produksi, waste dapat terjadi di beberapa tahapan:
1. Waste dari Corrugator
Pada proses corrugating, waste dapat terjadi karena setting mesin, startup, perubahan order, paper break, material rusak, trimming, dan ketidaksesuaian kualitas paper.
Material masuk: 50.000 kg
Waste: 1.500 kg
Waste Percentage: 3%
2. Waste dari Flexo Printing
Pada proses printing, waste dapat muncul karena setting warna, register tidak tepat, tinta tidak sesuai, printing defect, perubahan desain, start-up mesin, dan lembaran rusak saat proses.
Material masuk: 20.000 kg
Waste: 600 kg
Waste Percentage: 3%
3. Waste dari Die Cutting
Pada proses die cutting, waste dapat berasal dari trimming, bentuk layout yang tidak efisien, salah setting, cutting tidak sempurna, produk reject, dan kerusakan material.
Catatan: Tidak semua potongan yang dihasilkan dari proses die cutting otomatis merupakan "kesalahan". Sebagian memang merupakan waste yang secara desain tidak dapat menjadi bagian produk. Hal ini penting karena pabrik perlu membedakan antara waste yang memang diperlukan oleh desain dan waste yang terjadi akibat masalah proses.
Tidak Semua Waste Berarti Kesalahan
Ini adalah hal yang penting ketika membuat dashboard. Misalnya sebuah desain box memiliki bentuk tertentu sehingga terdapat bagian material yang memang harus dipotong. Material tersebut secara teknis menjadi scrap, namun bukan berarti operator melakukan kesalahan.
Sebaliknya, jika waste meningkat karena mesin tidak stabil, setting salah, operator salah memasukkan parameter, material rusak, atau banyak produk reject, maka waste tersebut merupakan jenis yang perlu diperbaiki.
Oleh karena itu, dashboard yang baik sebaiknya tidak hanya menampilkan Waste = 5%, tetapi juga menjelaskan dari mana waste tersebut berasal.
Jenis Waste pada Pabrik Kardus
Waste di pabrik kardus dapat dikelompokkan berdasarkan sumbernya agar perusahaan dapat mengetahui penyebab utama pemborosan material:
Trim Waste: Potongan pinggir material
Setup Waste: Material terbuang saat setting mesin
Startup Waste: Waste saat mesin baru mulai produksi
Reject: Produk tidak memenuhi standar kualitas
Material Damage: Kertas atau material pendukung yang rusak
Process Waste: Waste akibat kendala proses produksi
Changeover Waste: Waste saat pergantian jenis order
Cutting Waste: Material terbuang akibat proses cutting
Printing Waste: Material reject akibat masalah printing
Glue Waste: Produk gagal akibat proses gluing
Contoh Ringkas Tampilan Dashboard Waste
Dashboard produksi yang efektif tidak sekadar menampilkan angka persentase, tetapi menyajikan rincian fungsional seperti berikut:
Ringkasan Utama Material:
Material Usage: 100.000 kg
Good Production: 94.000 kg
Waste Quantity: 6.000 kg
Waste Percentage: 6%
Rincian Penyebab Waste:
Trim: 1.800 kg
Setup: 1.500 kg
Reject Printing: 1.000 kg
Die Cutting: 900 kg
Material Damage: 500 kg
Lainnya: 300 kg
Total Waste: 6.000 kg
Informasi seperti ini jauh lebih berguna daripada hanya menampilkan angka 6%. Manajemen bisa langsung melihat bahwa penyumbang terbesar berasal dari trim dan setup.
Waste Percentage dan Dashboard Pabrik
Dalam dashboard pabrik, Waste Percentage dapat ditampilkan sebagai KPI utama.
Contoh Tampilan Tren Bulanan:
Waste % Saat Ini: 4,2% (Turun dari bulan sebelumnya: 5,1%)
Contoh Tren Harian:
Senin — 3,8%
Selasa — 4,1%
Rabu — 4,5%
Kamis — 3,9%
Jumat — 5,2%
Dengan tren seperti ini, tim operasional dapat melihat apakah tingkat waste relatif stabil atau terdapat hari tertentu yang mengalami lonjakan.
Tampilkan Waste Berdasarkan Mesin
Jika pabrik memiliki beberapa unit mesin, dashboard sebaiknya memecah persentase waste berdasarkan unit kerja:
Corrugator: 3,2%
Flexo 01: 4,5%
Flexo 02: 3,8%
Die Cutting: 5,1%
Gluing: 2,4%
Data tersebut memberikan arahan bagi tim produksi untuk melakukan investigasi. Namun, angka tersebut perlu digali lebih dalam. Misalnya jika Die Cutting memiliki waste 5,1%, pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah karena desain produk memang menghasilkan banyak trimming?
Apakah karena mesin mengalami masalah mekanis?
Apakah karena operator sering melakukan adjustment?
Apakah karena material yang masuk sudah memiliki masalah dari proses sebelumnya?
Waste Percentage Harus Dilihat Bersama Production Output
Jangan melihat waste hanya berdasarkan jumlah kilogram secara absolut.
Perbandingan Dua Mesin:
Mesin A: Produksi 100.000 kg | Waste 5.000 kg | Waste Percentage = 5%
Mesin B: Produksi 20.000 kg | Waste 2.000 kg | Waste Percentage = 10%
Mesin B menghasilkan waste lebih sedikit secara total volume (2.000 kg), tetapi persentase material loss-nya jauh lebih tinggi. Maka dari itu, dashboard ideal harus menyajikan dua indikator sekaligus:
Waste Quantity: Menjawab "Berapa banyak total material yang terbuang?" (Contoh: 2.500 kg)
Waste Percentage: Menjawab "Seberapa besar material terbuang dibanding total input?" (Contoh: 4,5%)
Bagaimana Jika Waste Dijual Kembali?
Dalam industri kertas dan kardus, sebagian scrap memiliki nilai ekonomi karena dapat dikumpulkan dan dijual kembali sebagai material daur ulang. Namun, hal ini tidak berarti waste tersebut sepenuhnya non-rugi.
Ilustrasi Finansial:
Harga beli material: Rp10.000/kg
Harga jual scrap: Rp3.000/kg
Selisih rugi material: Rp7.000/kg
Selain kerugian selisih harga material, perusahaan masih menanggung biaya operasional tambahan seperti biaya handling, penyimpanan, transportasi, tenaga kerja, proses sortir, dan pengelolaan waste. Semakin sedikit waste yang dihasilkan, semakin tinggi efisiensi biaya pabrik.
Dampak Penurunan Waste Terhadap Penghematan Biaya
Pengurangan Waste Percentage memberikan dampak finansial langsung pada struktur biaya bahan baku.
Skenario Simulasi:
Penggunaan material pabrik: 1.000.000 kg/bulan
Waste awal (5%): 50.000 kg
Waste setelah perbaikan (4%): 40.000 kg
Pengurangan waste: 10.000 kg material/bulan
Jika harga material rata-rata Rp10.000/kg, potensi nilai material yang berhasil diselamatkan adalah:
10.000 kg × Rp10.000 = Rp100.000.000/bulan
Meskipun kalkulasi aktual harus memperhitungkan nilai penjualan scrap dan biaya operasional, contoh ini membuktikan bahwa penurunan Waste Percentage sebesar 1% saja bisa berdampak besar pada pabrik berkapasitas tinggi.
Langkah Efektif Menurunkan Waste
Setelah data Waste Percentage terlihat, langkah perbaikan memerlukan analisis terstruktur, bukan sekadar instruksi umum kepada operator. Beberapa pendekatan utama antara lain:
Analisis Berdasarkan Penyebab: Catat detail pemicu waste (setup, trimming, reject, printing, cutting, gluing).
Analisis Berdasarkan Mesin: Bandingkan antar unit untuk menemukan titik proses yang membutuhkan kalibrasi atau perawatan.
Analisis Berdasarkan Produk: Identifikasi apakah bentuk die cut, ukuran, atau spesifikasi cetak tertentu memicu pemborosan tinggi.
Analisis Berdasarkan Shift Kerja: Pantau konsistensi angka waste antara Shift 1, Shift 2, dan Shift 3 untuk mengevaluasi standar operasional kerja.
Hubungan Waste Percentage dengan OEE
Waste Percentage dapat diintegrasikan dengan kerangka kerja Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE mengukur efektivitas melalui formula Availability × Performance × Quality, sedangkan Waste Percentage memberikan analisis mendalam khusus untuk kehilangan bahan baku.
Sebagai contoh, jika sebuah mesin memiliki OEE 78% dan Waste 7%, angka OEE menunjukkan adanya kerugian efektivitas pada mesin, sementara indikator Waste Percentage membantu memastikan apakah kerugian tersebut bersumber dari masalah kualitas material atau setelan proses.
Contoh Integrasi Dashboard Produksi & Material
Berikut contoh integrasi data pada satu tampilan dashboard:
INDIKATOR UTAMA OEE:
OEE: 78,4%
Availability: 88,2%
Performance: 91,0%
Quality: 97,7%
INDIKATOR MATERIAL:
Total Material Input: 120.000 kg
Good Output: 114.000 kg
Total Waste: 6.000 kg
Waste Percentage: 5,0%
REKAPITULASI PENYEBAB UTAMA WASTE:
Trim: 2.000 kg
Setup: 1.500 kg
Printing Reject: 1.000 kg
Die Cutting: 800 kg
Material Damage: 400 kg
Lainnya: 300 kg
Sistem terpadu ini memberikan dua perspektif utama sekaligus: seberapa efektif mesin bekerja dan seberapa efisien bahan baku digunakan.
Target Waste Bersifat Fleksibel
Satu hal penting dalam menetapkan KPI adalah menghindari penggunaan satu target Waste Percentage yang seragam untuk seluruh jenis produk.
Produk sederhana dengan ukuran standar umumnya memiliki rasio waste alami yang rendah. Sebaliknya, produk dengan spesifikasi khusus, ukuran kecil, bentuk die cut rumit, atau variasi cetak tinggi akan menghasilkan persentase waste yang berbeda secara struktural. Target ideal harus disesuaikan dengan karakteristik order dan material.
Kesimpulan
Waste Percentage adalah indikator utama untuk mengukur tingkat efisiensi penggunaan bahan baku di pabrik kardus. Melalui rumus sederhana (Waste Material ÷ Total Material Input) × 100%, perusahaan dapat memantau porsi material yang gagal menjadi produk bernilai jual.
Agar berfungsi maksimal sebagai alat pengambilan keputusan, dashboard pabrik perlu menyajikan data pelengkap yang meliputi:
Jumlah material input dan good output
Total kuantitas dan persentase waste
Breakdown sumber dan jenis waste
Performa per mesin, jenis produk, dan tren waktu
Tujuan utama pemantauan Waste Percentage bukan sekadar mengejar angka KPI yang rendah, melainkan mengoptimalkan setiap kilogram bahan baku yang diproses. Pada industri kemasan kardus ber skala besar, efisiensi persentase yang kecil sekalipun akan memberikan penghematan biaya produksi yang sangat signifikan.
